December 17, 2005

Diam

Saya punya seorang teman, orangnya suka banget baca buku yang ribet2, pas ulang tahun saya yang ke 20 dia ngasih buku yang menginspirasi (thank God it was not the complicated ones) judulnya Hidup Tanpa Judul karangan Herry Tjahjono. Salah satu sub-babnya adalah Dalam Diam, Kita Bertatap Muka disana ditulis … Kadang,kita harus diam di hadapan-Nya. Itu yang selama ini sulit kita lakukan. Bahkan ketika kita berdoa dan bersimpuh di hadapan-Nya, sejuta pikiran kita, nafsu kita, harapan kita,mimpi kita, terhamburkan keluar melalui mulut kita atau cuma dalam dada. Kita sibuk dengan diri kita, dengan sejuta keresahan, permintaan, dan seterusnya. Kita sulit diam di hadapan-Nya. Buat saya untuk benar2 diam adalah masalah yang serius (mungkin nenek moyang saya suka saingan ama bebek), bahkan ketika saya terlihat diam (dan ini jarang banget) pikiran saya ramenya ga kalah sama pasar, mulai dari rencana bayar utang Ramadhan sampe protes soal perceraian Tamara ama Rafli. Yang parah kalo pas solat tuh pikiran enak aja melayang dari soal mau makan apa abis ini sampe mikirin alangkah enaknya nonton Amor de Terapaca sambil ngemil, padahal bagi seorang muslim solat seharusnya merupakan waktu istirahat sejenak dari dunia dan melepaskan diri dari status apapun yang kita sandang selain sebagai seorang hamba… waktu yang paling damai, waktu untuk diam dan mendengarkan rencan-Nya untuk kita… Allahu’alam

1 komentar:

lupi said...

ngeliat dari blog-nya angki... katanya blognya udah bulukan... eeehhh... ternyata blognya saras juga nih keliatannya...

hehehe...