December 16, 2005

HaNaCaRaKa dan perubahan persepsi

Saya Orang Jawa

Salama saya hidup sampai November kemarin belum pernah saya merasa bangga terhadap status saya sebagai orang Jawa, entah kenapa meskipun ayah saya njawa banget dan ibu saya cenderung lebih njawa daripada nyunda tapi saya lebih suka mengaku kalau saya adalah orang sunda, padahal perbendaharaan bahasa sunda saya minim banget. Sebelumnya orang Jawa dalam pandangan saya adalah orang yang kasar.

Ada dua buku ringan yang menunjukkan saya tentang unik dan dalamnya budaya tanah Jawa, salah satunya adalah HaNaCaRaKA, ini adalah aksara Jawa, yang setiap hurup dari aksara ini mempunyai makna dan pendalaman sendiri.

Ha-Na-Ca-Ra-Ka

Ha- Hana hurip wening suci (adanya hidup adalah kehendak dari Yang Maha Suci)
Na- Nur Chandra ( Pengharapan manusia tersandar mapa sinat Tuhan)
Ca- Cipta wening (satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal)
Ra- Rasaingsun handulusih (Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)
Ka- Karsaningsun mamayuhayuning bawana (hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam)

Da- Dumadining dzat kang tanpa winangenan (menerima hidup apa adanya)
Ta- Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (mendasar, sepenuh hati, satu pandangan, ketelitian dalam memandang hidup)
Sa- Sifat ingsun handulu sifat Gusti (membentuk kasih saying seperti kasih Gusti)
Wa- Wujud hana tan kena kirina (Ilmu manusia terbatas namun penerapannya tanpa batas)
La- Lir handaya paseban jati (Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Tuhan)

P- Papan kang tanpa kiblat (Kekuasaan Gusti yang ada di segala arah)
Dha- dhuwur wekasane endek wiwitane (Mendaki gunung dimulai dari dasar)
Ja- Jumbuhing kawula lan Gusti (Berusaha memahami kehendak Gusti)
Ya- Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi (Yakin atas titah Gusti)
Nya- Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (Memahami kodrat kehidupan)

Ma- Madep Mantep manembah mring Gusti (Yakin, mantap dalam menyembah Tuhan)
Ga- Guru sejati sing muruki (Belajar pada guru nurani)
Ba- Bayu sejati kang andalani (Menyelaraskan diri pada gerak alam)
Tha- Tukul saka niat (Segala sesuatu tumbuh dari niat)
Nga- Ngracut busananing manungso (Melepaskan keakuan manusia)

Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Ada utusan
Utusan Hidup
Berupa Napas
Yang berkewajiban menyatukan
Jiwa dengan jasad manusia

Da-TA-Sa-Wa-LA
Manusia setelah diciptakan
Sampai dengan saatnya (data)
Tidak boleh mengelak (sawala)
Ia dengan segala atributnya,
Harus bersedia menjalankan kehendak Tuhan

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya
Sanggup memahami kehendak Zat pemberi hidup,
Padha (sama)
Dialah yang jaya (menang) sungguh-sungguh.
Bukan menang-menangan atau sekedar menang

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga
Menerima segala perintah dan larangan Tuhan.
Pasrah, sumarah pada garis kodrat.
Meskipun diberi hak wiradat,
Berusaha untuk menanggulangi


Sumber : SAMITA (Bintang berpijar di langit Majapahit) karya Tasaro.

0 komentar: