December 17, 2005

Diam

Saya punya seorang teman, orangnya suka banget baca buku yang ribet2, pas ulang tahun saya yang ke 20 dia ngasih buku yang menginspirasi (thank God it was not the complicated ones) judulnya Hidup Tanpa Judul karangan Herry Tjahjono. Salah satu sub-babnya adalah Dalam Diam, Kita Bertatap Muka disana ditulis … Kadang,kita harus diam di hadapan-Nya. Itu yang selama ini sulit kita lakukan. Bahkan ketika kita berdoa dan bersimpuh di hadapan-Nya, sejuta pikiran kita, nafsu kita, harapan kita,mimpi kita, terhamburkan keluar melalui mulut kita atau cuma dalam dada. Kita sibuk dengan diri kita, dengan sejuta keresahan, permintaan, dan seterusnya. Kita sulit diam di hadapan-Nya. Buat saya untuk benar2 diam adalah masalah yang serius (mungkin nenek moyang saya suka saingan ama bebek), bahkan ketika saya terlihat diam (dan ini jarang banget) pikiran saya ramenya ga kalah sama pasar, mulai dari rencana bayar utang Ramadhan sampe protes soal perceraian Tamara ama Rafli. Yang parah kalo pas solat tuh pikiran enak aja melayang dari soal mau makan apa abis ini sampe mikirin alangkah enaknya nonton Amor de Terapaca sambil ngemil, padahal bagi seorang muslim solat seharusnya merupakan waktu istirahat sejenak dari dunia dan melepaskan diri dari status apapun yang kita sandang selain sebagai seorang hamba… waktu yang paling damai, waktu untuk diam dan mendengarkan rencan-Nya untuk kita… Allahu’alam

December 16, 2005

HaNaCaRaKa dan perubahan persepsi

Saya Orang Jawa

Salama saya hidup sampai November kemarin belum pernah saya merasa bangga terhadap status saya sebagai orang Jawa, entah kenapa meskipun ayah saya njawa banget dan ibu saya cenderung lebih njawa daripada nyunda tapi saya lebih suka mengaku kalau saya adalah orang sunda, padahal perbendaharaan bahasa sunda saya minim banget. Sebelumnya orang Jawa dalam pandangan saya adalah orang yang kasar.

Ada dua buku ringan yang menunjukkan saya tentang unik dan dalamnya budaya tanah Jawa, salah satunya adalah HaNaCaRaKA, ini adalah aksara Jawa, yang setiap hurup dari aksara ini mempunyai makna dan pendalaman sendiri.

Ha-Na-Ca-Ra-Ka

Ha- Hana hurip wening suci (adanya hidup adalah kehendak dari Yang Maha Suci)
Na- Nur Chandra ( Pengharapan manusia tersandar mapa sinat Tuhan)
Ca- Cipta wening (satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal)
Ra- Rasaingsun handulusih (Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)
Ka- Karsaningsun mamayuhayuning bawana (hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam)

Da- Dumadining dzat kang tanpa winangenan (menerima hidup apa adanya)
Ta- Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (mendasar, sepenuh hati, satu pandangan, ketelitian dalam memandang hidup)
Sa- Sifat ingsun handulu sifat Gusti (membentuk kasih saying seperti kasih Gusti)
Wa- Wujud hana tan kena kirina (Ilmu manusia terbatas namun penerapannya tanpa batas)
La- Lir handaya paseban jati (Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Tuhan)

P- Papan kang tanpa kiblat (Kekuasaan Gusti yang ada di segala arah)
Dha- dhuwur wekasane endek wiwitane (Mendaki gunung dimulai dari dasar)
Ja- Jumbuhing kawula lan Gusti (Berusaha memahami kehendak Gusti)
Ya- Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi (Yakin atas titah Gusti)
Nya- Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (Memahami kodrat kehidupan)

Ma- Madep Mantep manembah mring Gusti (Yakin, mantap dalam menyembah Tuhan)
Ga- Guru sejati sing muruki (Belajar pada guru nurani)
Ba- Bayu sejati kang andalani (Menyelaraskan diri pada gerak alam)
Tha- Tukul saka niat (Segala sesuatu tumbuh dari niat)
Nga- Ngracut busananing manungso (Melepaskan keakuan manusia)

Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Ada utusan
Utusan Hidup
Berupa Napas
Yang berkewajiban menyatukan
Jiwa dengan jasad manusia

Da-TA-Sa-Wa-LA
Manusia setelah diciptakan
Sampai dengan saatnya (data)
Tidak boleh mengelak (sawala)
Ia dengan segala atributnya,
Harus bersedia menjalankan kehendak Tuhan

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya
Sanggup memahami kehendak Zat pemberi hidup,
Padha (sama)
Dialah yang jaya (menang) sungguh-sungguh.
Bukan menang-menangan atau sekedar menang

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga
Menerima segala perintah dan larangan Tuhan.
Pasrah, sumarah pada garis kodrat.
Meskipun diberi hak wiradat,
Berusaha untuk menanggulangi


Sumber : SAMITA (Bintang berpijar di langit Majapahit) karya Tasaro.

December 15, 2005

Tentang Pemimpin


Pernah ga kamu tau ada pemimpin yang dalam pertanggungjawabannya bilang kalo ‘rakyat’nya lah yang salah dan jadi penyebab tidak harmonisnya ‘negara’, hahaha saya masih mikir kalo dia pasti bercanda tapi sayangnya dia serius dengan ucapannya, well… itulah pemimpin yang pernah saya pilih. Yang pertama terlintas dalam benak saya adalah betapa kekanak2annya pemimpin saya ini, lalu betapa bodohnya dia (atau mungkin bodohnya saya yang telah memilih dia). Analogi yang terpikir adalah pemimpin dan aparat yang dipilihnya adalah mesin dalam sebuah kendaraan, dan bila mobil ga jalan, pertanyaan yang terlintas pertama kan bukan ‘joknya bermasalah ga ya?’ tapi mesin mana nih yang bermasalah, bensinnya penuh ga ,ato akinya abis kali. Bensin dan aki dalam suatu organisasi terutama organisasi non-profit adalah inspirasi dari sang pemimpin, kepercayaan, idealisme yang terus dicapai dan dipupuk.

Dalam kebudayaan jawa ada sebuah ajaran kepemimpinan yang bernama hasta brata, disana disebutkan bawa seorang pemimpin harus memiliki sifat :
surya (memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan, menumbuhkan daya hidup rakyat untuk membangun negerinya),
candra/bulan (memancarkan sinar ditengah gelap malam, memberi semangat kepada rakyatnya dikala suka maupun duka),
kartika/bintang (memancarkan sinar kemilauan, berada ditempat yang tinggi sehingga dapat dijadikan pedoman arah, ia menjadi teladan yang baik),
angkasa (luas tak terbatas, mampu menampung apa saja yang datang padanya, punya ketulusan batin dan mampu mengendalikan diri, menampung pendapat rakyatnya),
maruta/angin (ada di mana-mana tanpa membedakan tempat, selalu mengisi semua ruang kosong),
samudra (betapapun luasnya, permukaannya selalu datar, bersifat sejuk dan menyegarkan),
dahana/api (memiliki kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya, berwibawa dan berani menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu), dan
bhumi (kuat dan murah hati, memberi hasih kepada yang merawatnya, bermurah dan tidak mengecewakan rakyatnya)
–di ambil dari buku "Samita" karangan Tasaro.

Dari sini dapat dilihat juga bahwa yang menjadi pusat adalah rakyatnya. Susah ternyata jadi pemimpin, mungkin ini juga yang membuat para sahabat nabi berpikir seribu kali sebelum memegang suatu tanggung jawab, karena sebagai muslim menjadi pemimpin berarti memegang sebuah amanah yang setiap detik dan tarikan napasnya akan dimintai pertanggung jawabannya.

Allahu’alam bis shawab

Saya Cinta Indonesia ?


Bermula dari kurang mood menanggapi atasan saya yang emang hobi nambahin kerjaan untuk para pegawainya yang keliatan bersemangat (padahal suer kalo saya lagi lemes).
Bos : ‘Ras, gimana fax konfirmasi buat trainernya?’
Saya : (dalam hati) hah, kapan pernah ada fax konfirmasi buat trainer…. ‘fax pak?’
Bos : ‘Iya, kan suratnya udah dikirim’
Saya : (masih dalam hati) buset kan suratnya belon 1 jam yang lalu dikirim… ‘kan suratnya baru dikirim pak’
Bos : ‘ya, ga papa’
Ya sutra lah daripada dipelototin, dengan setengah hati saya bikin tuh surat.. kayanya si bos ga ngarti kalo si pegawai lagi bete, dia ngomong lagi
Bos : ‘ko rese ya kalo kita minta trainer dari Uni. Gajah (nama samaran, uni. ini adalah almamater saya), sampe sekarang ga ada tanggapannya, lain kali cari yang lain aja ya’
Saya : secara logis si bos ga salah, tapi namanya juga orang bete jadinya ya pake hati.. bodo amat, biar orang2 uni. gajah rese tapi tokcer (hehe u wish)..
Karena tanggapan saya tampak positif, si bos nerusin ceritanya, tapi saya ga inget euy celotehan depannya da lagi gondok, akhirnya sih nyambung ke ‘coba yang ngirim surat namanya Jason ato Jack, si dosen Uni. Gajah pasti cepet nanggepinnya’ trus saya ketawa sopan, si Bos ngelanjutin ‘Temen saya juga ada yang kaya gitu, dia bangga banget kerjasama ama sebangsanya Michael padahal banyak keluhan juga tentang kinerja bangsanya Jack, bangsa kita emang gitu (suka ga adil) pas pesawat kita dijual dengan imbalan ketan kita ngetawain, di head line ditulis gede2, tapi pas kita beli sukhoi pake sawit ga ada tuh yang ngetawain bangsanya si Alexei … (ditutup dengan) ga ada lagi kebanggaan terhadap bangsa sendiri!’ mukanya si bos udah kaya pejuang 45 ngeliat menir Belanda yang ga ganteng aja.

Dalam perjalanan pulang, peristiwa dengan si Bos keinget lagi, ya, bangsa kita kehilangan kebanggaan terhadap tanah airnya. Karena diangkot ga ada kerjaan saya coba agak mikir ‘kenapa?’…… udah sampe muka berkerut mikir hal2 filosofis-logis saya tetep belum dapet jawabannya, akhirnya saya bilang sama diri saya ‘udah, otak lu ga nyampe mikir yang aneh2, jawab aja kenapa lu ngebet banget sekolah di luar negeri?, ga peduli bagus ato engga sekolahnya, pokoke study abroad lah’. Jawaban saya adalah ‘saya cape di Indonesia, cape ngerasa kasian sama anak jalanan yang ujan2an sambil megang uang cepean, cape ngeliat balita dengan perut mengembung karena sehari2 cuma makan beras campur kuah garem, cape ngeliat buser yang isinya siapa merkosa siapa, cape melihat betapa tidak berdayanya universitas terbaik di Indonesia berada ditengah2 lautan sampah, cape diklakson-in mobil belakang karena angkot berenti di tengah jalan bwat nurunin saya.‘