December 15, 2005

Tentang Pemimpin


Pernah ga kamu tau ada pemimpin yang dalam pertanggungjawabannya bilang kalo ‘rakyat’nya lah yang salah dan jadi penyebab tidak harmonisnya ‘negara’, hahaha saya masih mikir kalo dia pasti bercanda tapi sayangnya dia serius dengan ucapannya, well… itulah pemimpin yang pernah saya pilih. Yang pertama terlintas dalam benak saya adalah betapa kekanak2annya pemimpin saya ini, lalu betapa bodohnya dia (atau mungkin bodohnya saya yang telah memilih dia). Analogi yang terpikir adalah pemimpin dan aparat yang dipilihnya adalah mesin dalam sebuah kendaraan, dan bila mobil ga jalan, pertanyaan yang terlintas pertama kan bukan ‘joknya bermasalah ga ya?’ tapi mesin mana nih yang bermasalah, bensinnya penuh ga ,ato akinya abis kali. Bensin dan aki dalam suatu organisasi terutama organisasi non-profit adalah inspirasi dari sang pemimpin, kepercayaan, idealisme yang terus dicapai dan dipupuk.

Dalam kebudayaan jawa ada sebuah ajaran kepemimpinan yang bernama hasta brata, disana disebutkan bawa seorang pemimpin harus memiliki sifat :
surya (memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan, menumbuhkan daya hidup rakyat untuk membangun negerinya),
candra/bulan (memancarkan sinar ditengah gelap malam, memberi semangat kepada rakyatnya dikala suka maupun duka),
kartika/bintang (memancarkan sinar kemilauan, berada ditempat yang tinggi sehingga dapat dijadikan pedoman arah, ia menjadi teladan yang baik),
angkasa (luas tak terbatas, mampu menampung apa saja yang datang padanya, punya ketulusan batin dan mampu mengendalikan diri, menampung pendapat rakyatnya),
maruta/angin (ada di mana-mana tanpa membedakan tempat, selalu mengisi semua ruang kosong),
samudra (betapapun luasnya, permukaannya selalu datar, bersifat sejuk dan menyegarkan),
dahana/api (memiliki kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya, berwibawa dan berani menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu), dan
bhumi (kuat dan murah hati, memberi hasih kepada yang merawatnya, bermurah dan tidak mengecewakan rakyatnya)
–di ambil dari buku "Samita" karangan Tasaro.

Dari sini dapat dilihat juga bahwa yang menjadi pusat adalah rakyatnya. Susah ternyata jadi pemimpin, mungkin ini juga yang membuat para sahabat nabi berpikir seribu kali sebelum memegang suatu tanggung jawab, karena sebagai muslim menjadi pemimpin berarti memegang sebuah amanah yang setiap detik dan tarikan napasnya akan dimintai pertanggung jawabannya.

Allahu’alam bis shawab

0 komentar: