Persoalan BUMN dan perusahaan negara cukup dekat dihati si saya, secara papa adalah karyawan BUMN dan mama PNS, namun karenanya pula sebelum saya tahu mau jadi apa saya terlebih dulu memutuskan untuk tidak bekerja disana, trauma? mungkin :)... Orang tua saya termasuk mereka yang tidak sungkan untuk berbicara soal pekerjaan dengan anak2nya, jadi sedikit banyak saya mendapat gambaran soal carut-marutnya kondisi disana... Tambahan lagi tinggal di kompleks BUMN memberi trauma untuk pertumbuhan mental (*berlebihan :p), suasana materialistik-kapitalis-feodalisme benar2 merusak cara berpikir saya sebagai anak bawang... Di SD saya, status macam anaknya siapa; jabatan orangtuanya apa; rumahnya dimana; dan masalah2 seperti itu menjadi baseline status sosial (-_-!), so frustrated... Maka ketika lulus dan pindah ke sekolah negeri, saya seperti anak kecil yang diajakin ke dufan untuk pertama kalinya (bebaaaas dan excited)...
note : ada juga loh positifnya SD saya itu : fasilitasnya lengkap, disiplinnya baik, pengajarnya oke, kegiatannya banyaaaak '\(^o^)/`
Balik lagi ke persoalan BUMN dan perusahaan negara, ada angin sejuk yang membuat saya jadi semangat, dimulai dari tahun2 kemarin ketika Departemen Keuangan mulai berbenah2 trus PLN juga mulai untuk mereformasi diri ^o^. Paling seneng waktu nemu site kliping soal Pak Dahlan Iskan, karena dari sini saya jadi tahu betapa semangatnya PLN berbenah. Yang membuat saya optimis ialah mendengar bahwa banyak karyawan PLN yang memang menunggu2 reformasi ini, huhuuy. Di semua lembaga negara pasti banyak yang merasa resah dan mau bekerja keras untuk sebuah perubahan. Semoga optimisme ini juga menjalar. Saya jadi inget banyak temen2 yang sekarang bekerja di BUMN dan lembaga negara, semangat kawan....
'\(^o^)/`
Dan dari sini saya jadi tahu apa mau saya kedepan, yosh....

4 komentar:
aku kok nggak ngeh ya, Jeng tentang status2an itu...cuma yg ngena bgt mah, diskriminasi kelas A dan B hahaha
hehe memang saya sensitif :)...
hihi hidup PLN \m/
Saras, kalau gede mau jadi apa? :)
Post a Comment