January 31, 2010

100 Tahun Muhammad Natsir

Diambil dari www.bukabuku.com

Untuk yang berniat membaca biografi Muhammad Natsir, saya menganjurkan untuk memilih buku yang lain karena buku ini hanya berisi tanggapan dan kesan orang2 terdekat beliau, sehingga pemikiran2 yang disampaikan sudah merupakan interpretasi dari orang lain. Namun, buku ini baik untuk pelengkap setelah membaca biografi beliau. Lepas dari itu ada beberapa pesan yang membekas dalam hati setelah membaca buku ini (oya, saya tidak menyelesaikan buku ini karena dari 6 orang pertama, ceritanya kurang lebih sama).

Pesan pertama adalah tentang kesederhanaan. Ditengah pemberitaan tentang mobil mewah dan rencana kenaikan gaji para menteri (setelah raport 100 harinya dinilai merah), rencana pembelian pesawat kepresidenan, pembelian so called kapal patroli terumbu karang yang kualifikasinya memenuhi setiap aspek kapal pesiar tetapi bukan kapal patroli, juga berita2 lain yang bernada sama, maka rasanya mempelajari kebersahajaan Bung Natsir (Perdana menteri RI 1950-1951) dan Bung Hatta  (Wakil Presiden RI sampai dengan tahun 1956) adalah sesuatu yang harus jadi agenda bapak dan ibu menteri yang terhormat. Sedikit cuplikan tentang kesederhanaan beliau :
"Ketika datang pertama kali ke rumah dinas itu beliau membawa koper, dan setelah tidak menjabat perdana menteri lagi, dengan koper yang sama beliau keluar dari rumah dinas itu" (Ahmad Fauzie Natsir)
"Setelah dibebaskan dari tahanan di Jl. Keagungan, Aba mengontrak rumah kecil di sebuah gang Jl. Juwana di kawasan Blora, Menteng. Rumah kontrakan semi permanen yang sebagian terbuat dari tembok dan sebagian lagi dari papan itu ukurannya sekitar 4x4 meter. Karena rumahnya terlalu kecil, tidak semua anggota keluarga tinggal di rumah kontrakan tnersebut. Seluruh anak-anaknya terpisah di saudara-saudara kami. Di rumah itu Aba tidur di dipan yang terbuat dari kayu. Saking kecilnya, ruang tamu, kamar tidur dan dapur menjadi satu, hanya dipisahkan oleh gorden." (Ahmad Fauzie Natsir)

Pesan kedua adalah kesantunan dan kebesaran hati. Siapa yang tidak tahu cerita tentang sidang konstituante (belajar : berpolitik), tidak ada manuver kekanakan dan ucapan tak pantas didengar. Menurut pendapat saya pribadi, ini karena Muhammad Natsir, SutanTakdir Alisyahbana, Buya Hamka, Isa Anshari, D.N. Aidit dan para anggota konstiuante adalah tokoh-tokoh cerdas dan percaya diri sehingga tidak perlu berteriak ataupun bertingkah untuk menunjukkan kualitasnya. Di luar sidang pun mereka tetap dapat bercanda dan duduk dalam satu meja, meskipun jalur politik mereka berbeda tapi akar tujuannya tetap sama "Indonesia yang lebih baik".

Dipenutup buku ini, ada dua kutipan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X yang menjadi favorit saya :
"Selalulah meminta kepada Tuhan dan teruslah berbuat,
Sehingga hidup ini menjadi lebih berarti."
Dr. Muhammad Natsir


"Dan janganlah diplih hidup ini bagai nyanyian ombak
Hanya berbunyi ketika terhempas di pantai
Tetapi jadilah kamu air bah, mengubah dunia dengan amalmu

Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu
Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad"
Puisi dari Mohammad Iqbal yag diterjemahkan oleh Muhammad Natsir


Note :
target membaca bulan ini terhitung tidak memuaskan karena buku pilihan tidak diselesaikan dengan baik dan benar. Lesson learned : pilih buku yang benar sehingga di tengah jalan tidak perlu dirubah2 lagi!!

target berolah raga : kita lihat apakah rutinitas olahraga yang sudah bagus di minggu kemarin bisa bertahan lama

target menabung : done. Oya, bagus juga kalau kita punya 2 rekening bank, satu bank konvensional dan satu bank syariah. Rekening di bank konvensional memudahkan lalu lintas transaksi kita (transfer gaji, auto debet, visa, dll) dan rekening bank syariah cocok untuk menabung, bikin hati lebih tenang..

0 komentar: