May 03, 2007

Sahabat, Ada ga ya?

Banyak definisi yang saya tahu tentang persahabatan dari sepanjang hidup saya, dan Alhamdulillah saya memiliki sahabat-sahabat yang diimpikan oleh banyak orang, mengingat mungkin ada orang yang sampai akhir hidupnya pun tidak menemukan teman-teman seperti yang saya miliki, saya bersyukur kepada Tuhan setiap hari atas anugerah berupa sahabat ini.

Hari itu, Sabtu 9 September 2006, saya menemukan definisi lain dari persahabatan dan kali ini bukan definisi yang menyenangkan atau penuh dengan bunga-bunga. Sisi lain dari persahabatan adalah sebuah persaingan yang menyeramkan. Saya bukan tipe orang yang percaya akan kekalnya sesuatu, baik itu kegembiraan atau kesedihan, tapi untuk persahabatan yang kami miliki, dengan naïf saya berpikir bahwa kali ini berbeda. And that day, I wasn’t prepared. Dan yang terjadi, hari itu saya hanya bisa diam… Bisu… Betapa menakjubkannya, dalam kebisuan dunia malah menjadi lebih ramai, mungkin karena pada saat2 ini lah akal dan hati dapat saling berdiskusi…

Hhh miris betul rasanya karena jika bukan pada sahabat kita bisa percaya, lalu pada siapa lagi… Jika ego, akal, dan hati nurani berperang, siapakah yang akan menang…

Akhirnya perundingan di dalam hati pun digelar… Persahabatan yang kami miliki rasanya patut dihargai dengan pengertian bahwa kita berteman dengan manusia yang tentunya memiliki banyak ketakutan apalagi pada umur2 kami ini. Ketakutan yang paling dominan mungkin adalah ketakutan akan luasnya masa depan sehingga menempatkan kami pada ketidakpastian, ketakutan jika masa2 emas kami ternyata telah lewat, ketakutan akan ditinggalkan… Ketakutan2 ini mungkin malah mengubah persahabatan menjadi beban. Rasanya pengertian lah yang dibutuhkan ketika beban itu mulai terasa tak tertahankan. Pengertian untuk memberikan ruang, pengertian untuk menyediakan waktu dan pengertian untuk meluaskan pintu maaf sehingga kita dapat tumbuh bersama2 semakin besar dan besar dan lebih besar lagi.. Saya sadar bahwa saya belum sekuat itu untuk memberikan pengertian yang dutuhkan persahabatan kami (sekarang aja rasanya masih mau nonjok muka orang, maklum mantan pesilat), tapi saya juga sadar bahwa ini adalah salah satu tarbiyah (pembelajaran dari Sang Bijaksana) dimana outputnya adalah perubahan, dan dalam kasus saya goalnya adalah hati yang semakin kuat, luas dan senantiasa bersandar hanya pada-Nya.. Saya kini sadar bahwa ungkapan bahwa ‘Dunia Itu Kejam’ memang mempunyai alasan yang kuat. Saya berharap semoga Sang Bijaksana selalu menyertai setiap langkah saya di dunia ini.
Sekejap badai datang, mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis, langit pun menangis
(Gerimis, Kla Project)