
Ya Rahman, I’m overwhelmed with joy but still, I’m afraid with the fact that world keep changing..
Sehabis baca buku Peterpan dan Penangkap Bintang (Peterpan and The Star Catcher, dalam bahasa aslinya) cukup mengena di hati terutama bagian akhir ketika peter menyentuh peti berisi bubuk emas yang menjadikannya dapat terbang dan tidak menua.. Pada saat itu Peter bertanya, “Lalu apa yang perlu dipemasalahkan?” (mengenai menjadi tua) dan akhirnya ia menyadari bahwa dunia disekitarnya akan ‘menua’ dan meninggalkannya, ia akan melihat hal2 yang dicintainya menjauh dan meredup, seakan akan ia terlempar dari putaran waktu namun hatinya tertinggal, merasakan banyak pertemuan dan banyak kehilangan. Akhirnya Peter memutuskan untuk mengasing dari keramaian dan hidup di pulau dengan suku terasing, pulau itu kemudian dikenal dengan Neverland.
Saya merasakan sedikit perasaan Peter, ketika kita lulus kuliah (sekolah), saya merasa semua menjauh, teman-teman, rutinitas, mimpi2, kebanggaan bahkan mungkin idealisme (yang terakhir semoga hanya terkikis dan belum hilang sepenuhnya). Untuk saya yang merasakan sistem pendidikan di Indonesia yang lurus tanpa harus campur tangan dengan pikiran kreatif apalagi mendalam (SD yang bagus, SMP yang terjamin, SMA unggulan, Universitas ternama), maka yang namanya lulus kuliah seperti orang yang baru bangun tidur trus disuruh lari marathon (please dong, blum sempet ngulet2 gitu loh). Rasanya hal2 yang dipikirkan selama menjadi siswa trus mahasiswa tidak pernah menyiapkan saya untuk langsung berlari marathon setelah bangun tidur. Jadi yah, seperti Peter tadi, saya secara tidak sadar memutuskan untuk terus berada dalam wilayah kenyamanan saya dan melihat dunia membesar lalu menjauh meninggalkan saya pada lubang hitam. Saya masih bersyukur karena (meskipun terlambat) saya tidak mau seperti Peter yang tetap muda, saya bukan Peter karena saya punya pilihan untuk ‘tumbuh’ dan kelak ‘menua’, maka kini saya mengais-ais kesadaran saya untuk menemukan apa yang menjadi mimpi saya, apa yang menjadi tujuan hidup dan merangkak keluar dari lubang gelap.
Jadi inget komik Topeng Kaca ‘Bidadari Merah’, episode ketika maya harus memerankan sang tanah, pada saat itu maya memutuskan untuk mejadi biji, dalam dialognya ia menyuarakan hati sang biji (saya ga apal dialognya euy) yang intinya sang biji harus menentukan pilihan apakah ia akan terus di tanah, menolak untuk tumbuh karena dengan begitu ia akan tetap aman dalam lindungan sang ibu (Bumi maksudnya) dan terhindar dari hujan lebat, manusia dan hal lain yang mengancam hidupnya, atau tumbuh dan menghadapi semuanya. Pada akhirnya sang biji memutuskan untuk keluar dari perut ibunya dan menempuh bahaya yang ada karena matahari toh akan mengeringkan daunnya jika hujan mengguyurnya, ada si lebah yang menjadi temannya dan toh ia sejatinya takkan benar-benar berpisah dari naungan ibu yang ia kasihi, ia sadar memang dunia memberikan duka tapi tak pernah lupa untuk menyediakan penawarnya.

0 komentar:
Post a Comment