
Dulu pas masih muda (hihi ngerasa tua banget, tapi emang udah hampir setengah abad) sering geli sendiri liat orang yang lagi dirundung cinta (halah bahasanya ga nahan).. Tapi di ulang tahun yang ke 24 ini, Sang Kekasih mengirim bingkisan berupa rasa yang menjadi perbincangan tak putus sampai akhir jaman.. ya, bingkisan itu berupa getaran halus di hati (jika memang rasa itu bisa didefinisikan sebagai cinta, tapi saya lebih setuju dengan savage garden untuk tidak mendefinisikannya, how do you redefine something that never really had a name ?).. Ih btw pubernya ko telat banget ya...
Jadi berdasarkan pengalaman hati selama bergulat dengan bingkisan itu, maka terciptalah tulisan pendek ini.. Lumayan relieve setelahnya..
Jika aku menjadi bumi, akan ku tanya bintangku,
lelahkah kau membakar diri untuk dapat menyinari?
Bila saja aku awan, akan ku tanya ku tanya sang bumi,
tidakkah kau letih menanggung perih?
Seandainya aku diciptakan sebagai angin, pasti ku tanya gumpalan putih di langit
Mengapa kau tak mengeluh meskipun akhirnya selalu menangis?
Jika aku adalah tanah, akan ku tanya semilir yang berhembus
tidakkah kau ingin menetap?
Sempet juga seorang temen bilang jawabannya adalah karena cinta sejati, cinta Sang Kekasih pada umat-Nya lah yang membuat matahari bersabar membakar dirinya.. Well, bingkisan ini bukan ujian yang mudah tapi seperti bingkisan-Nya yang lain, bersamanya senantiasa tersimpan kemudahan dan hikmah..
ps : hehe image di atas ga ada hubungannya dengan postingan (unless you could found it, i'm completely open to all free-thinkers) cuma mau berbagi keindahan balikpapan, sang kota minyak, menjelang malam.
Jadi berdasarkan pengalaman hati selama bergulat dengan bingkisan itu, maka terciptalah tulisan pendek ini.. Lumayan relieve setelahnya..
Jika aku menjadi bumi, akan ku tanya bintangku,
lelahkah kau membakar diri untuk dapat menyinari?
Bila saja aku awan, akan ku tanya ku tanya sang bumi,
tidakkah kau letih menanggung perih?
Seandainya aku diciptakan sebagai angin, pasti ku tanya gumpalan putih di langit
Mengapa kau tak mengeluh meskipun akhirnya selalu menangis?
Jika aku adalah tanah, akan ku tanya semilir yang berhembus
tidakkah kau ingin menetap?
Sempet juga seorang temen bilang jawabannya adalah karena cinta sejati, cinta Sang Kekasih pada umat-Nya lah yang membuat matahari bersabar membakar dirinya.. Well, bingkisan ini bukan ujian yang mudah tapi seperti bingkisan-Nya yang lain, bersamanya senantiasa tersimpan kemudahan dan hikmah..
ps : hehe image di atas ga ada hubungannya dengan postingan (unless you could found it, i'm completely open to all free-thinkers) cuma mau berbagi keindahan balikpapan, sang kota minyak, menjelang malam.

0 komentar:
Post a Comment