
Hey kamu,
Aku ingin bercerita tentang permohonanku pada Tuhan..
Saat itu sudah setengah tahun sejak aku meninggalkan usia 25 tahun dan aku lelah menebak2 tentang bagaimana rasanya saat bertemu denganmu, aku benar2 butuh jawaban.
Bukan dikala seperempat malam terakhir aku suguhkan pertanyaan padaNya seperti nasihat orang2 bijak, karena setiap tiba saatnya aku selalu merasa masih banyak doa besar yang harus dirapal disaat istimewa itu. Pertanyaan itu terlontar dalam perjalanan menuju tempat kerja, aku berbisik padaNya "Wahai yang Maha Bijaksana dan yang menggenggam jiwa ini, bagaimanakah rasanya ketika bertemu dengan jodohku? bagaimana aku bisa tahu jika ia benar2 orang yang tepat?. Kumohon, ajari aku agar aku tak tersesat, tak mengapa jika kini ia tak sadar dan aku harus menunggu, karena ku yakin Kau akan pertemukan hati kami pada saat yang terbaik menurut pengetahuanMu". Entah bagaimana, tapi ku yakin Ia akan menjawab sejelas2nya dengan caraNya sendiri.
Beberapa hari kemudian, jawaban itu datang tanpa ku tunggu (seperti halnya segala permohonanku yang lain). Kau mau tahu bagaimana caranya?..
Sore itu ia lewat dihadapanku, berbalik dan menyapa, kami berbicara sebentar lalu ia pergi. Aku pulang dengan perasaan ringan, dan jawaban itu datang. Aku akan jatuh cinta seperti ini, ringan dan mengalir, dengan seseorang yang sederhana, tenang dan tak banyak bicara.
Mungkin yang kutemui sore itu bukan kau, karena toh yang kumohon adalah pengetahuan tentang perasaanku saat bertemu dengan mu, namun setidaknya kini aku tahu apa yang ku cari.
Hey kamu, Tuhan benar2 mengabulkan doa jika kita memintanya, maka bisikkanlah ribuan doa bagi dirimu, keluargamu, orang2 yang kau sayangi, gurumu, bangsa ini, umat ini, untuk pertemuan kita pada waktu juga tempat yang terbaik menurut pengetahuanNya, dan untuk keluarga yang kita bina kelak.
Bukan dikala seperempat malam terakhir aku suguhkan pertanyaan padaNya seperti nasihat orang2 bijak, karena setiap tiba saatnya aku selalu merasa masih banyak doa besar yang harus dirapal disaat istimewa itu. Pertanyaan itu terlontar dalam perjalanan menuju tempat kerja, aku berbisik padaNya "Wahai yang Maha Bijaksana dan yang menggenggam jiwa ini, bagaimanakah rasanya ketika bertemu dengan jodohku? bagaimana aku bisa tahu jika ia benar2 orang yang tepat?. Kumohon, ajari aku agar aku tak tersesat, tak mengapa jika kini ia tak sadar dan aku harus menunggu, karena ku yakin Kau akan pertemukan hati kami pada saat yang terbaik menurut pengetahuanMu". Entah bagaimana, tapi ku yakin Ia akan menjawab sejelas2nya dengan caraNya sendiri.
Beberapa hari kemudian, jawaban itu datang tanpa ku tunggu (seperti halnya segala permohonanku yang lain). Kau mau tahu bagaimana caranya?..
Sore itu ia lewat dihadapanku, berbalik dan menyapa, kami berbicara sebentar lalu ia pergi. Aku pulang dengan perasaan ringan, dan jawaban itu datang. Aku akan jatuh cinta seperti ini, ringan dan mengalir, dengan seseorang yang sederhana, tenang dan tak banyak bicara.
Mungkin yang kutemui sore itu bukan kau, karena toh yang kumohon adalah pengetahuan tentang perasaanku saat bertemu dengan mu, namun setidaknya kini aku tahu apa yang ku cari.
Hey kamu, Tuhan benar2 mengabulkan doa jika kita memintanya, maka bisikkanlah ribuan doa bagi dirimu, keluargamu, orang2 yang kau sayangi, gurumu, bangsa ini, umat ini, untuk pertemuan kita pada waktu juga tempat yang terbaik menurut pengetahuanNya, dan untuk keluarga yang kita bina kelak.

3 komentar:
Ciyee.. Saras,... jadi, deg-degan gak pas ngobrol? ihihihik... jadi penasaran, siapakah pria beruntung itu?
bukannya perasaan ringan dan mengalir terhadap seorang yang tenang dan ga banyak bicara itu, bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja ya?
hihihihihi..
bikin saras tambah bingung..
tenang aja ras, when the time is come, you'll know it *sotoy berat, padahal sendirinya juga belum tau*
TKP @ awal Agustus bukan???
kayaknya gw tau neh orang nya he he :p
[andai dia "tau"]
Post a Comment