
Bermimpilah dan Tuhan Akan Menggenggam Mimpimu
(Arai, dari Novel Edensor karya Andrea Hirata)
Kata orang “Mata adalah jendela hati”, namun ga semua dari kita memiliki daya penglihatan yang sempurna. Ajeng termasuk “kasus” yang mengalami penurunan daya pengelihatan sejak kecil (mmm mungkin sejak lahir juga soalnya pas masih masa ‘lucu2nya’ itu saya ga nyadar kalo udah minus, namanya juga lagi lucu2nya –hehe ga penting ya-) dan orangtua saya termasuk yang anti anaknya pake kacamata (don’t ask me why), jadi meskipun saya pernah bilang kalo tulisan di papan tulis tampak seperti cacing2 menari lalu terlindas becak, papa tetep ga percaya. So sepanjang masa TK dan SD adalah masa perjuangan dan setiap malam adalah doa semoga pagi nanti dunia akan lebih cerah. Tapi aku bangga (Deuuu >_<) karena meskipun banyak tantangannya, prestasi semasa SD termasuk Ok.
“ Terima kasih kepada teman-teman sebangku semasa TK, SD dan SMP; Adrian Hasrul Harun –tapi saras ga lupa stiker yang dipinjem dulu belum dibalikin, ayo balikin!!!!-, Trias Prihardini, Yuniar Ardianti, Afriana dan yang lain –maaf lupa euy, tapi didoain juga ko”.
Pas SMP kelas dua alhamdulillah akhirnya diijinin pake kacamata (Hip Hip Huraaa, Full Bright World here I come!!!!), tapi dasar papa rada kampring, dipilihinnya kacamata model enin (50 Th keatasan lah >_<) hehe tenang aja ga ngurangin kebahagiaan kok. Semakin lama doa agar mata ini bisa ngeliat normal semakin sedikit dan terkubur di hati terdalam (Cieeee!!!), ga diucapin tapi juga ga dilupain. Setelah kira-kira 23 tahun, datanglah doa itu melalui ucapan papa “Jeng, mau LASIK?” (Yiiiippiiii!!!!!!!).
Sekarang ajeng punya mata indah bola ping pong yang bisa ngeliat dunia dengan lebih cerah tanpa bantuan Miss Glasses (by the way, thanks to all my glasses that always be with me and help me to see the world).. tuh kan Allah ga lupa doa kita, so Bermimpilah dan Tuhan Akan Menggenggam Mimpimu !!..
